SELAMAT DATANG DI POKER757 AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA SE-INDONESIA! Kakek 78 Tahun Asal Kalimantan Timur ini Tolak Uang Rp 10 Miliar Demi Jaga Hutan Buatannya Tidak Rusak: ‘Saya menyiapkan oksigen bagi masyarakat’ - Zona Keepo

Selasa, 05 November 2019

Kakek 78 Tahun Asal Kalimantan Timur ini Tolak Uang Rp 10 Miliar Demi Jaga Hutan Buatannya Tidak Rusak: ‘Saya menyiapkan oksigen bagi masyarakat’

Kakek 78 Tahun Asal Kalimantan Timur ini Tolak Uang Rp 10 Miliar Demi Jaga Hutan Buatannya Tidak Rusak: ‘Saya menyiapkan oksigen bagi masyarakat’



ZonaKeepo - Adalah Suhendri, kakek 78 tahun asal Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang menjadi pahlawan bagi masyarakat atas pemberian oksigen dari hutan buatannya.

Ya, tanpa berharap pamrih atau adanya balas jasa, kakek Suhendri dengan senang hati menyediakan oksigen bagi masyarakat dari hutan buatannya di tengah Kota Tenggarong.

“Saya menyiapkan oksigen bagi masyarakat di kota ini,” tuturnya.

Dia bahkan turut menolak para investor yang terus menerus datang menggodanya untuk menyerahkan hutan buatannya tersebut.

“Banyak yang datang mau beli, tapi saya tidak mau. Apalagi mau bikin perumahan, saya tidak mau, lingkungan rusak,” ucapnya.

Tawaran yang diberikan para investor pun tidaklah main-main. Lahan seluas 1,5 hektarnya itu dihargai Rp 10 miliar.

Namun beruntung, dengan keteguhan hatinya, kakek Suhendri tidak tergoda. Dia tetap mempertahankan hutannya untuk bisa dinikmati hingga cucu dan cicidnya nanti.

Bukan hanya karena alasan itu, kakek Suhendri mempertahankan hutannya juga berkaca dari pengalamannya terdahulu, pada tahun 1971, ketika dia bekerja sebagai pekerja proyek pembangunan asrama milik perusahaan kayu, melansir Kompas.com.

Saat itu, dia menyaksikan bagaimana perusahaan itu menebang kayu secara brutal hingga membuat hutan gundul tanpa sisa.

“Dari situ muncul motivasi. Saya akan merawat hutan. Saya kemudian beralih jadi petani, tapi garap lahan orang lain,” ungkapnya.

Niat mulianya itu pun akhirnya terwujud pada 1986. Dengan bermodalkan uang Rp 100.000, kakek Suhendri membeli lahan seluas 1,5 hektar, dan mulai menanami 1.000 bibit kayu damar, meranti, kapur, pinus, kayu putih, ulin, dan sengon, yang ia dapat dari Bogor, Jawa Barat.

Kini, setelah 33 tahun berlalu, bibit-bibit itu pun telah tumbuh menjadi pohon tinggi menjulang yang membentuk hutan dalam kota.

Hutan tengah kota ini pun banyak menarik perhatian para penelitian mahasiswa, baik dalam negeri maupun luar negeri.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar