SELAMAT DATANG DI POKER757 AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA SE-INDONESIA! Misi Paling Berbahaya dalam Perang Dunia II - Zona Keepo

Minggu, 02 Agustus 2020

Misi Paling Berbahaya dalam Perang Dunia II

Misi Paling Berbahaya dalam Perang Dunia II



ZonaKeepo - Perang Dunia II dipenuhi dengan pertempuran-pertempuran yang mengerikan demi mempertahankan atau merebut suatu wilayah. Selain pertempuran besar, terdapat juga misi rahasia yang dilakukan tanpa sepengetahuan musuh. Misi ini juga tidak kalah berbahaya dengan pertempuran karena biasanya hanya beranggotakan sedikit orang dan harus masuk ke wilayah musuh sehingga risiko tertangkap maupun terbunuh sangat tinggi.

Selain itu, biasanya misi rahasia ini merupakan tindakan bunuh diri karena sangat kecil kemungkinan untuk dapat lolos dari kejaran musuh. Penasaran dengan 8 misi paling berbahaya dalam Perang Dunia II? Mari kita bahas dalam daftar berikut ini.

1.Serbuan pasukan Giretsu

Kekaisaran Jepang sangat terkenal akan keberanian pasukannya yang berani melakukan serangan bunuh diri. Tidak hanya kamikaze, terdapat pula misi bunuh diri lainnya yang dilakukan oleh Giretsu, satuan khusus yang ahli di bidang sabotase.

Seperti ditulis dalam laman Sofrep, Kekaisaran Jepang semakin khawatir akan keberadaan Amerika Serikat di Okinawa yang memungkinkan serangan pesawat pengebom B-29 Superfortress menjadi lebih efektif. Pada malam 24 Mei 1945, Giretsu dikirim melalui pesawat Ki-21 Sally dengan masing-masing pesawat berisi 14 orang Giretsu.

Dengan sandi Operasi Gi, mereka mengincar lapangan terbang Yontan di Okinawa yang dikuasai pasukan Amerika. Bukan misi yang mudah, banyak pesawat Giretsu yang ditembak jatuh.

Dari 5 pesawat, hanya 1 yang berhasil mendarat. Giretsu yang berhasil mendarat langsung menyerbu lapangan terbang Yontan, membakar 70.000 galon bahan bakar pesawat Amerika, menghancurkan 9 dan merusak 26 pesawat Amerika.

Sekitar 60 lebih Giretsu tewas dalam misi ini yang memang dirancang sebagai misi bunuh diri. Sayangnya, target utama mereka yaitu pesawat B-29 tidak ada di lokasi.

2.Penyelamatan MacArthur

Jenderal Douglas MacArthur mendapatkan perintah dari Presiden Franklin Roosevelt untuk meninggalkan Filipina demi menyelamatkan diri dari pasukan Jepang yang semakin menguasai wilayah Filipina pada 11 Maret 1942.

Namun, perjalanannya ini bukanlah hal yang mudah. Jepang tentu tidak akan membiarkan MacArthur lepas karena ialah yang memegang kepemimpinan tertinggi dari pasukan Amerika di Filipina.

Seperti ditulis dalam laman History, MacArthur memulai perjalanan yang menegangkan dari Corregidor menuju Mindanao meninggalkan pasukan gabungan Amerika dan Filipina yang masih bertahan di Semenanjung Bataan. MacArthur dan keluarganya hanya menggunakan kapal patroli torpedo, melewati lautan yang ganas, ladang ranjau dan armada laut Kekaisaran Jepang.

Rombongan MacArthur kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat B-17 Flying Fortress menuju Australia. MacArthur juga memberikan pernyataannya yang fenomenal bahwa ia akan kembali ke Filipina dan membebaskannya dari cengkeraman Jepang, sebuah janji yang ia wujudkan 3 tahun setelahnya.

3.Torpedo manusia 

Italia sedang terpuruk sejak kekalahannya dalam Pertempuran Tanjung Matapan pada akhir Maret 1941 yang semakin mengaburkan mimpi Benito Mussolini untuk menguasai Laut Mediterania. Tanpa bantuan Kriegsmarine, Regia Marina akan kewalahan untuk menghadapi Angkatan Laut Kerajaan Britania Raya secara langsung.

Seperti ditulis dalam laman The National Interest, Italia yang tetap tidak mau menyerah kemudian melakukan operasi rahasia torpedo manusia pada 19 Desember 1941 untuk menghancurkan kapal Britania Raya yang sedang berlabuh di Alexandria, Mesir. Misi ini terinspirasi dari misi serupa yang dilakukan Italia pada Perang Dunia I.

Enam anggota torpedo manusia yang dibagi ke dalam tiga regu dikirim menggunakan kapal selam Scire. Misi ini sangat berbahaya karena mereka harus menyelinap di bawah air melewati pengawasan musuh dan memasang bahan peledak di bawah kapal.

Misi ini berhasil merusak kapal tempur HMS Queen Elizabeth, HMS Valiant dan menenggelamkan kapal tanker Sagona. Sementara itu, enam orang yang melakukan aksi torpedo manusia tadi berhasil ditangkap oleh pasukan Britania Raya.


4.Operasi Cerberus

Sejak tahun 1941, kapal perang Gneisenau, Scharnhorst dan Prinz Eugen milik Kriegsmarine, Angkatan Laut Jerman berada di Brest, Prancis untuk diperbaiki. Angkatan Udara Kerajaan Britania Raya terus melakukan serangan udara ke Brest untuk menghancurkan tiga kapal ini.

Seperti ditulis dalam laman Fleet Air Arm Museum, Kriegsmarine mulai khawatir akan adanya kemungkinan serangan Britania Raya ke Norwegia. Maka dari itu, Kriegsmarine memerintahkan kapal perangnya untuk kembali ke pelabuhan Jerman demi melindungi Norwegia.

Dengan sandi Operasi Cerberus, tiga kapal kebanggaan Jerman ini berangkat dari Brest pada 11 Februari 1942 menuju pelabuhan Jerman dengan dikawal lebih dari 30 kapal. Sebuah misi yang sangat berbahaya karena akan melintasi perairan yang dijaga ketat oleh musuh.

Rute Selat Inggris dipilih karena dinilai lebih cepat dan aman jika dibanding dengan melintasi Scapa Flow, meskipun keduanya sama-sama dijaga ketat oleh Britania Raya yang sudah mengetahui adanya konvoi kapal perang Jerman dari Brest. Untuk mencegat mereka, Britania Raya melancarkan Operasi Fuller.

Benar saja, selama melintasi Selat Inggris, konvoi kapal perang Jerman mendapat serangan bertubi-tubi dari Britania raya. Beruntung, Gneisenau, Scharnhorst dan Prinz Eugen berhasil tiba di Jerman tanpa kerusakan yang berarti meskipun sepanjang perjalanan mendapat serangan tanpa henti dari meriam pesisir, kapal hingga pesawat Britania Raya.





LINK ALTERNATIF :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar